Dari Pekarangan ke Ketahanan Pangan, UMNU Kebumen Kenalkan Inovasi Agribisnis Rumah Tangga
Pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan dan peluang ekonomi menjadi salah satu materi dalam lanjutan Pelatihan “Aku Hatinya PKK” yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kebumen di Gedung PKK Kabupaten Kebumen, Jalan H.M. Sarbini Nomor 72.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 12.30 WIB tersebut diikuti perwakilan Pokja III TP PKK Kabupaten Kebumen. Pelatihan ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Koordinator BPP Kabupaten Kebumen, praktisi pertanian dari Prembun Mutejo, serta akademisi Fakultas Pertanian dan Peternakan (Faperta) Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, Umi Barokah, M.P., yang menjadi salah satu narasumber.
Dalam pemaparannya, Umi Barokah menyampaikan materi bertema “Optimalisasi Pengelolaan Pekarangan Berbasis Agribisnis untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Keluarga.”
Umi mengatakan, keterbatasan luas pekarangan bukan menjadi alasan untuk tidak memanfaatkannya sebagai lahan produktif. Menurutnya, pemilihan model budidaya dan jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi lahan serta kemampuan masing-masing keluarga.
“Lahan sempit sebenarnya bukan masalah utama. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana memilih model budidaya, komoditas, dan cara perawatan yang sesuai dengan kondisi lahan, lingkungan, serta kemampuan keluarga,” jelas Umi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah metode pemanfaatan lahan terbatas, antara lain penggunaan polybag, karung, vertikultur, hingga hidroponik sederhana.
Selain memberikan materi, Umi juga membawa sejumlah contoh produk yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Sendangdalem. Di antaranya Pupuk Organik Indigofera dan Pupuk Organik Azolla.
Umi menjelaskan, bahan organik seperti Indigofera dan Azolla memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam pengelolaan budidaya tanaman. Azolla, misalnya, dikenal sebagai tanaman yang dapat bersimbiosis dengan mikroorganisme penambat nitrogen sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.
Peserta juga diperkenalkan dengan konsep aquaponik sederhana yang memanfaatkan galon air mineral bekas. Bagian bawah wadah dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, sementara bagian atas dimanfaatkan untuk menanam sejumlah jenis sayuran.
Beberapa tanaman yang dapat dikembangkan antara lain kangkung, pakcoy, caisim, selada, dan daun bawang.
Menurut Umi, pemanfaatan model tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ruang. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh proses menanam, tetapi juga perawatan setelah tanaman tumbuh.
“Menanam itu mudah, yang susah adalah merawatnya,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui ketika mengelola tanaman di rumah. Pertanyaan antara lain berkaitan dengan daun tanaman terong yang menguning, perawatan tanaman tomat, penggunaan kompos berbahan kotoran ternak, hingga komposisi media tanam untuk tanaman yang dibudidayakan dalam polybag.
Diskusi tersebut membuat pelatihan berlangsung interaktif karena materi yang disampaikan kemudian dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi peserta di lingkungan rumah masing-masing.
Melalui pelatihan ini, pemanfaatan pekarangan diarahkan tidak hanya sebagai bagian dari penataan lingkungan rumah, tetapi juga sebagai salah satu upaya menyediakan pangan bagi keluarga.
Sayuran yang ditanam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara budidaya ikan melalui sistem aquaponik menjadi alternatif pemanfaatan ruang secara terpadu. Bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan budidaya sesuai pengelolaan yang tepat.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman praktisi pertanian, serta kebutuhan kader PKK di lapangan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing keluarga.
Pemanfaatan pekarangan dengan demikian tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Polybag, karung, rak vertikultur, maupun wadah bekas dapat menjadi pilihan untuk memulai budidaya tanaman di lingkungan rumah.
Bagi keluarga, pekarangan bukan sekadar ruang kosong, tetapi dapat menjadi ruang produktif untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan.
Editor : Suryo Sukarno
Sumber: iNewsPantura.id